Berita

Polusi Udara Tingkatkan Tren Hunian Hijau Keluarga Muda

10 Sep 2019 20:34

MEMILIKI alam yang sejuk dan kualitas udara relatif bersih, membuat Bogor banyak diminati sebagai tempat tinggal. Di Bogor orang masih dapat menikmati pemandangan pegunungan (Gunung Salak dan Gunung Pangrango) yang tidak dimiliki kota-kota penyangga lainnya seperti Depok, Tangerang, dan Bekasi. Jarak dan waktu tempuh Bogor ke Jakarta pun masih dalam batas toleransi.

Kawasan Bogor makin menjadi incaran dalam dua bulan terakhir ini, seiring tren pemberitaan buruknya kualitas udara wilayah DKI Jakarta. Bahkan, seringkali Ibu Kota Negara ini masuk dalam kategori kota paling polutif (tidak sehat) di dunia. 

Berdasarkan data AirVisual, Air Quality Index (AQI) atau polusi Kota Jakarta dalam beberapa minggu belakangan ini cukup tinggi. Tingginya polusi di Jakarta tentu memberikan dampak buruk pada kesehatan masyarakat. Berbagai penyakit mulai dari asma hingga penyakit jantung, akan mudah menjangkit. 

Studi bertajuk, 'On the road to universal health care in Indonesia, 1990-2016: A Systemic Analysis for the Global Burden of Disease Study 2016,’ menyebutkan bahwa 4 penyebab kematian tertinggi masyarakat Indonesia adalah penyakit jantung iskemik, stroke, diabetes, dan TBC.

Mungkin karena alasan itu banyak masyarakat, khususnya keluarga muda yang belum memiliki rumah, melirik Bogor sebagai rumah pertamanya. Di samping lebih hijau dan sejuk, salah satu memilih Bogor sebagai tempat tinggal adalah kesehatan keluarga.

Menurut Eftianto, Division Head Business Development, PT Suryamas Dutamakmur Tbk, pengembang Rancamaya Golf Estate, Bogor, tren masyarakat mencari tempat tinggal yang mendukung kesehatan keluarganya terus meningkat. 

Kebanyakan mereka bekerja dan beraktivitas bisnis di Jakarta yang merasakan betul rendahnya kualitas udara dan kepadatan sehari-hari. Sedangkan di Rancamaya Golf Estate yang dikenal dengan lingkungan yang asri, pepohonan hijau, golf view, serta udara bersih dan sejuk, sehingga meyakinkan keluarga untuk hidup di lingkungan yang sehat.

“Tren ini sebenarnya sudah terjadi dua tahun terakhir, ketika kami merilis Kingsville District seluas 28 hektar. Respon masyarakat yang sebagian besar adalah keluarga muda sangat positif. Cluster pertama, Salvador di awal pemasarannya laris, karena polusi udara di sini sangat rendah,” kata Eftianto dalam keterangannya di Bogor, Jawa Barat, Rabu (21/8).

Produk hunian di Kingsville District ini mengakomodasi selera pasar. Dalam hal ini, pengembang menyediakan hunian berkonsep villa kepada calon pembeli dari kalangan keluarga muda dengan usia pada kisaran 30 sampai 40 tahun.

Saat ini, jelas Eftianto, Cluster Salvador seluas 8 hektare sudah terjual habis, dan klaster Amadeus (cluster 2), pada pemasaran tahap 1, seluas 3 ha telah terjual 90%, dan baru-baru ini diluncurkan tipe terbaru Andante. Direncanakan pemasaran fase 2, seluas 4 ha akan dibuka September 2019.

Amadeus merupakan klaster hunian dengan konsep rumah tumbuh, dipasarkan dengan harga mulai Rp692 juta hingga Rp2 miliar. Pada masa pemasaran tahap 1 ditawarkan sebanyak 130 unit rumah 2 lantai, terdiri atas 3 tipe Marcato (65/90), Crecendo (40/84), serta tipe terbaru dan terbesar yaitu Andante (90/120).

“Tipe Andante kami tawarkan hanya 10 unit dengan harga mulai Rp1,4 miliar. Klaster ini lebih spesial dengan desain split level, mengikuti kontur tanah sehingga membuat tipe ini tampak sangat unik.” jelasnya.

Eftianto mengatakan, sebagian besar pembeli rumah di Kingsville District adalah end-user. Kawasan ini dilengkap berbagai fasilitas, seperti area komersial (ruko), club house, area terbuka hijau, dan lain sebagainya.

Rancamaya Golf Estate tidak hanya menawarkan hunian untuk kelas menengah ke atas, tetapi juga menyediakan hunian kelas atas. Salah satunya ialah Richmond Peak yang menawarkan rumah, atau kavling siap bangun dengan luas di atas 240 meter persegi hingga 400 m2.

“Untuk rumah di Richmond Peak kami menyediakan berbagai macam pilihan desain termasuk yang didisain oleh biro arsitek terkemuka Indonesia yaitu Hadiprana, sedangkan untuk kavling yang kami tawarkan mulai dari harga Rp2,3 miliar, kavling terkecil seluas 240 m2,” jelas Henny Hendrawan, Director of Sales and Marketing, PT Suryamas Dutamakmur Tbk.

Untuk membangun rumah di Richmond Peak, lanjut Henny, pihaknya menyediakan beberapa opsi desain menarik yang bisa dipilih. Namun jika konsumen punya desain sendiri, dan ingin membangun sendiri, dipersilakan.

Klaster Richmond Peak sendiri, menurut dia, menyasar segmen pasar usia di atas 50 tahun yang posisi keuangan sudah mapan. Biasanya di usia senior dan mapan dalam hal keuangan, mereka lebih mengedepankan green living. Di sini bisa menikmati pemandangan pegunungan, pepohonan dan kicauan burung. Sangat cocok untuk hidup di hari tua, dengan udara segar dan hidup sehat.


Sumber: Mediaindonesia.com | Ekonomi